Lulusan UI Tidak Lebih Baik dari UGM

KOMPAS Sabtu, 21-06-1997. Halaman: 4

Oleh Hermawan Sulistyo

SEBAGAI alumnus Universitas Indonesia (UI), saya bisa bilang kepada rekan saya Dr Riswandha Imawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bahwa sekolah saya (dulu) lebih baik dari sekolahnya. Kalau dia tidak percaya, akan saya sodorkan hasil peringkat 50 universitas terbaik di Asia versi majalah Asiaweek yang dimuat harian ini (Kompas 23/5/1997). Dalam versi ini, UI menduduki peringkat ke-32 dan UGM ke-37, sementara Institut Teknologi Bandung (ITB) ke-19.

Continue reading

Internet dan Hak Cipta Intelektual

KOMPAS Rabu, 03-04-1996. Halaman: 17

Oleh Hermawan Sulistyo

SEJAK merebaknya demam internet di Indonesia, beberapa media massa cetak (surat kabar dan majalah) membuka homepage. Melalui jaringan on-line internet, yang dimuat bukan hanya berita-berita hangat, baik straight news ataupun features, melainkan juga artikel-artikel byline oleh penulis luar.

Continue reading

Birokrasi Indonesia 2012-2020

KOMPAS Sabtu, 24-02-1996. Halaman: 4

Oleh: Hermawan Sulistyo

SEJAK sekitar satu setengah dekade terakhir, diskursus kepolitikan nasional didominasi oleh pendekatan negara versus masyarakat sipil (state vis-a-vis civil society). Seluruh keprihatinan pengamat tercurah pada fakta, bahwa pemerintah, sebagai perwujudan negara, berada pada posisi yang terlalu kuat dalam berhadapan dengan masyarakat sipil. Suatu kondisi yang bukan sekadar dirujuk secara teoretis, melainkan juga diupayakan banyak pihak untuk diubah. Meskipun sulit memprediksi hasil upaya semacam ini, ada sejumlah indikator yang bisa dipakai untuk membayangkan apa yang akan terjadi pada birokrasi kita 16 hingga 20 tahun mendatang.

Continue reading

Historiografi tentang Resolusi Jihad NU

KOMPAS Jumat, 24-11-1995. Halaman: 4

Oleh Hermawan Sulistyo

DALAM historiografi (sejarah tentang sejarah) kemerdekaan Indonesia, peran pesantren dan komunitas Islam tradisional (secara spesifik, NU) memang terabaikan. Untuk kasus peristiwa 10 November di Surabaya, kondisinya persis seperti yang dikeluhkan Martin van Bruinessen dalam artikel Hairus Salim HS (Kompas, 10/11). Namun, ada beberapa penjelasan lain mengapa sejarah tertulis mengabaikan, atau menurunkan, peran mereka.

Continue reading