Lulusan UI Tidak Lebih Baik dari UGM

KOMPAS Sabtu, 21-06-1997. Halaman: 4

Oleh Hermawan Sulistyo

SEBAGAI alumnus Universitas Indonesia (UI), saya bisa bilang kepada rekan saya Dr Riswandha Imawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bahwa sekolah saya (dulu) lebih baik dari sekolahnya. Kalau dia tidak percaya, akan saya sodorkan hasil peringkat 50 universitas terbaik di Asia versi majalah Asiaweek yang dimuat harian ini (Kompas 23/5/1997). Dalam versi ini, UI menduduki peringkat ke-32 dan UGM ke-37, sementara Institut Teknologi Bandung (ITB) ke-19.

Analis yang gegabah akan menarik inferensi lebih jauh, bahwa lulusan UI lebih pintar dibanding lulusan UGM (meskipun saya pasti akan senang dinilai demikian). Tapi, pemeringkatan universitas seperti itu bisa menyesatkan bagi pembaca awam. Struktur dan sistem universitas yang tidak sama, serta penggunaan parameter untuk menentukan kriteria mana yang kualitasnya lebih baik, menyulitkan perbandingan secara adil.

* * *

DASAR penilaian pertama, dengan bobot tertinggi, yang dilakukan oleh Asiaweek ialah “reputasi akademik”. Kriteria ini didasarkan pada “penilaian subjektif” reputasi akademik oleh satu universitas terhadap universitas lain. Ini saja sudah menimbulkan persoalan, karena betapa pun hebatnya ITB, akan sulit mengalahkan “reputasi” universitas lain yang menggunakan bahasa pengantar Inggris, atau yang memiliki akses ke luar universitas (bahkan ke luar negeri) dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah medium informasi kepada sejawat akademik di tempat lain. Bisa saja ada bantahan argumen ini, khususnya dalam kasus universitas Jepang, karena mereka juga tidak menggunakan bahasa Inggris. Tapi, patut dicatat bahwa akses mereka ke publik yang tidak berbahasa Inggris (dan sebaliknya) tidak kurang-kurang. Kelemahan perangkat penilaian Asiaweek jauh lebih banyak lagi dari sekadar soal penilaian “reputasi”.

Sistem rangking ini sesungguhnya bisa dibandingkan dengan sistem pemeringkatan serupa, tetapi yang lebih mapan, di Amerika Serikat. Ada banyak kriteria di sana untuk menentukan peringkat universitas, sehingga misalnya didapatkan kelompok universitas papan atas (disebut Ivy League) dan di bawahnya yang disebut dengan bermacam istilah. Yang paling umum, keseluruhan kategori suatu universitas adalah most competitive, very competitive, highly competitive, competitive, less competitive, non-competitive. Patut dicatat, universitas yang dinilai hanya mereka yang diakreditasi.

Komponen standar penilaian yang digunakan sangat kompleks. Salah satu yang terpenting dan justru tidak dipakai oleh Asiaweek, ialah ratio dosen-mahasiswa. Semakin kecil rationya, semakin tinggi nilai yang diperoleh, karena berarti lebih sedikit mahasiswa yang ditangani oleh seorang dosen. Universitas kelas satu anggota Ivy League seperti Yale memiliki ratio 1:4, sementara umumnya universitas kelas menengah memiliki ratio 1:10. Perbandingan ini hanya mencakup tenured professor dan tidak termasuk asisten (TA atau teaching assistant dan GA atau graduate assistant, keduanya adalah mahasiswa graduate yang membantu tugas-tugas pengajaran dosen).

Kriteria lain sama seperti yang digunakan Asiaweek, yaitu persentase dosen penyandang gelar doktor. Di Amerika, umumnya pemegang gelar setingkat S-2 (Masters) tidak berhak menyandang status sebagai dosen tetap (disebut tenured professor) dan hanya bisa menjadi “dosen kontrakan” dengan sebutan instructor dan bukan “profesor”. Patut dicatat, profesor di Amerika adalah gelar profesi, bukan gelar jabatan dengan besluit Presiden seperti di Indonesia. Pengakuan jenjang profesor diberikan oleh peer group, atau rekan-rekan seprofesi. Mereka inilah yang persentasenya dijadikan salah satu kriteria terpenting dalam menilai kualitas sebuah universitas. Dosen yang “hanya” bergelar setingkat S-2 belum dianggap dosen dan tidak boleh mengasuh mata kuliah secara independen.

Kriteria penting lain, yang juga diterapkan Asiaweek, ialah ratio antara pendaftar (calon mahasiswa) dengan jumlah yang diterima (enrollment). Makin tinggi rationya, berarti makin bergengsi universitas itu di mata lulusan SMU. Besarnya kelas rata-rata sering juga menjadi ukuran. Jika dibandingkan, mirip dengan perbandingan enrollment mahasiswa zaman Skalu atau Skasu di Indonesia pada tahun 1970-an, ketika calon mahasiswa (dan orangtuanya) masih bisa melihat angka-angka resmi perbandingan pendaftar dan yang diterima.

Yang terkesan aneh dari peringkat Asiaweek ialah kriteria yang menyangkut sumber daya keuangan. Dan tentu saja sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan maupun dihasilkan. Tetapi, ia harus “diterjemahkan” dulu ke dalam komponen penunjang sistem pengajaran. Misalnya, untuk peralatan laboratorium dan sebagainya. Dana yang besar tidak akan ada gunanya tanpa alokasi yang tepat. Contoh paling mencolok di Indonesia, dana umumnya digunakan dengan visi untuk menjaring mahasiswa lebih banyak dan bukan diprioritaskan untuk peningkatan kualitas pengajaran. Berapakah universitas di Indonesia yang menyediakan ruang dosen lebih dari sekadar “kotak sabun”? Sementara itu, berapa yang gila-gilaan menambah ruang kuliah tanpa peduli dosennya bekerja di warung bawah pohon?

* * *

SISTEM peringkat universitas di Amerika terlalu kompleks untuk diuraikan hanya dalam sebuah artikel. Sistem tersebut telah dikembangkan selama puluhan tahun dan teruji oleh konsumen (calon mahasiswa mau pun pengguna jasa alumni mereka) maupun dunia keilmuan itu sendiri berupa produk-produk ilmiah dan riset yang mendorong perkembangan sains, iptek, dan bahkan kebudayaan. Itu pun masih banyak loopholes atau lubang-lubang kelemahan karena kompleksitas struktur dan sistem universitasnya. Analoginya, tentu lebih sulit menerapkan parameter yang memuaskan untuk membandingkan UGM dengan Universitas Beijing, seperti yang dilakukan Asiaweek.

Yang kerapkali dilupakan dalam “membaca” rangking universitas di Amerika ialah bahwa peringkat umumnya disusun hanya pada jenjang undergraduate (S-1). Pada program sarjana (S-2 dan S-3 di Amerika disebut sama, graduate program), peringkat biasanya disusun per disiplin ilmu atau bidang keahlian. Misalnya, ada peringkat untuk Departments of Sociology, Political Science, program MBA, dan sebagainya. Sebuah universitas yang dalam peringkat umum hanya masuk kategori kelas dua bisa saja memiliki program graduate disiplin tertentu yang menduduki peringkat pertama dalam bidangnya. Program S-3 lebih spesifik lagi, karena setiap bidang umumnya memiliki komunitas akademik yang mapan, dan anggotanya saling kenal. Karena itu, seorang kandidat doktor umumnya tidak ditanya “kuliah di mana” tetapi “siapa yang membimbing.”

Dengan demikian, semakin tinggi jenjang strata di universitas, semakin tidak relevan sistem peringkat tersebut. Lebih tidak relevan lagi jika ditambah dengan fakta perkembangan fasilitas universitas yang paling mutakhir seperti komputer, sistem audio visual untuk teleconference (pengajaran jarak jauh), dan seterusnya. Sebuah contoh bisa dipetik dari fasilitas perpustakaan. Jumlah koleksi buku di jantung kehidupan kampus ini sepuluh tahun yang lalu masih menjadi salah satu kriteria terpenting bagi peringkat universitas. Kini, universitas yang dulu “kelas kambing” dan jelas tak mampu mengejar ketinggalannya dari universitas papan atas menerapkan strategi yang berbeda.

Arizona State University (ASU) bisa dipetik sebagai sebuah contoh. Selain pengembangan perpustakaan secara klasik dalam hal penambahan jumlah koleksi (hardcopy) buku, universitas ini mengembangkan sistem yang sangat efisien dan efektif bagi riset kepustakaan di sumber-sumber lain. Dengan diversifikasi dan spesifikasi koleksi berbagai universitas, seorang mahasiswa ASU bisa memperoleh literatur yang dicari di universitas lain lewat jaringan internet dan jaringan internal interlibrary loan hanya dalam waktu seminggu. Dengan demikian, jumlah hardcopy buku bukan lagi satu-satunya ukuran (bahkan tidak bisa dijadikan ukuran) sebuah perpustakaan lebih baik dari perpustakaan lain. Kesimpulannya, harus sangat berhati-hati dalam “membaca” hasil perbandingan seperti yang dilakukan Asiaweek.

* Hermawan Sulistyo, pernah menjadi staf pengajar di Program for Southeast Asian Studies Arizona State University, AS; kini tinggal di Jakarta.

Photo: Komunitas @ UI

Advertisements