ABRI, Internet, dan Ketahanan Nasional

KOMPAS Sabtu, 03-02-1996. Halaman: 4

Oleh Hermawan Sulistyo

HANYA beberapa hari setelah pimpinan ABRI pada awal Desember 1995 mengumumkan akan melakukan perang informasi di Internet, para netters sudah bisa “menikmatinya.” Info ini mulai dari yang “telanjang” hingga samar-samar. Untuk yang terakhir, hanya netters dengan pengalaman politik praktis yang bisa menangkap pesan-pesan di balik kalimat postings.

Kejadian ini membawa implikasi yang jauh bagi masa depan jaringan dan muatan informasi mengenai Indonesia, serta menyangkut aspek-aspek ketahanan nasional bangsa kita. Untuk mengenali rumitnya arena “perang” jenis baru ini serta aspek-aspek terkaitnya, yang pertama harus dipahami ialah ciri-ciri umum informasi di internet. Kemudian, sifat dasar kalangan pengguna dan pembaca (readership) internet, serta strategi ABRI menghadapi tantangan masa depan ini.

“Readership” internet

Secara umum, informasi di Internet terdiri dari dua macam, info searah dan dua arah. Info searah dapat ditemui di pangkalan homepage. Dalam medium tradisional, fungsinya semacam papan pengumuman, dengan alternatif lanjutan dialog antara penyedia info dan pembaca melalui jalur E-mail. Sebuah contoh bisa diambil dari homepage Kongres Amerika Serikat. Kalau memerlukan info lebih rinci mengenai satu aspek, misalnya tentang juru bicara Kongres Newt Gingrich, melalui click tertentu, kita bisa langsung masuk ke alamat E-mail Gingrich. Lewat jalur ini, pertanyaan bisa diajukan, dan jawaban resmi disampaikan (meskipun bisa ditebak, jawaban ini dipersiapkan oleh stafnya).

Meskipun homepage memungkinkah dialog lanjutan, fungsi utamanya tetap saja sebagai papan pengumuman. Artinya, hanya mereka yang berkepentingan untuk mendapatkan info dari jenis papan pengumuman seperti ini yang akan membuka, apalagi menelusuri sampai habis, homepage yang disediakan ABRI. Pembaca jenis ini hanya terdiri dari dua lapisan, yaitu mereka yang sama sekali tidak tahu tentang ABRI dan membutuhkan informasi paling mendasar, dan mereka yang sudah tahu banyak tentang ABRI. Info yang dicari golongan kedua, misalnya, latar belakang perwira yang baru dipromosikan ke jabatan lebih tinggi, serta mutasi yang lebih umum. Banyak lagi info strategis yang dicari oleh golongan pembaca ini.

Yang merepotkan, dalam strategi konvensional informasi militer, kandungan info terinci yang dicari-cari jenis pembaca kritis umumnya dikategorikan rahasia. Padahal, sudah sejak lama pembaca jurnal Indonesia (Cornell University) dan berbagai jurnal studi strategis lain sudah bisa membaca info mutasi dan latar belakang para perwira yang dipromosikan, dalam waktu relatif cepat. Termasuk juga akuisisi persenjataan. Karena itu, kalau ABRI enggan mengubah kriteria dan kategori yang lama, homepage-nya akan dilecehkan, atau tidak ditengok lagi. Patut dicatat, daftar “pengunjung” di sebuah homepage sama sekali tidak mengindikasikan intensitas “kunjungan” mereka. Pembaca kritis tetap akan lebih mengandalkan hardcopy jurnal semacam Indonesia, atau sumber-sumber lain di Internet yang sudah mulai menyediakan jasa info semacam itu.

Newsgroup dan jalur-jalur E-mail di luar homepage lebih interaktif. Kelompok diskusi begini melibatkan banyak pihak, dengan atau tanpa moderator. Agaknya, yang diincar otoritas hankam ialah kelompok-kelompok diskusi yang biasa diisi suara-suara sangat kritis terhadap Pemerintah RI, seperti Apakabar (Indonesia List) dan Indo.soc.culture. Yang pertama dimoderatori John McDougall, sedangkan yang kedua tanpa moderator. Dari segi pengendalian informasi, newsgroup tanpa moderator lebih sulit ditangani. Newsgroup sosial dan kebudayaan Indonesia, tanpa moderator, isinya seringkali saling memaki antar-netters. Pengguna yang tidak punya mental “bertarung” dan cepat panas hati, bisa-bisa sakit hati sejak awal.

Sebaliknya, newsgroup dengan moderator, seperti Apakabar, lebih terarah. Sebagai moderator, John McDougall menyeleksi postings yang menyerang pribadi secara keterlaluan, meskipun tetap ada perdebatan mengenai batas-batasnya. Jusfiq Hadjar dari Belanda, misalnya, dikenal pelanggan Apakabar sebagai netter yang paling agresif menyerang netters lain, tapi tetap diloloskan oleh moderator berdasarkan pertimbangan substansial, bukan cara atau teknik berdiskusi. Medium ini sekarang tampaknya juga lebih bergeser menjadi konservatif, dengan semakin banyaknya isi koran dan majalah masuk jalur ini.

Strategi penyampaian info

Karena sifat newsgroup yang lebih interaktif, kontra-informasi dari pihak pemerintah dan  otoritas hankam lebih terarah pada kelompok diskusi ini. Selama ini, secara sekilas tampak digunakannya strategi konvensional. Pertama, dari aktor pelaku. Partisipan baru, dengan berbagai pseudonym, muncul berbondong-bondong. Beberapa nama yang dikenal “keras” seperti Jusfiq Hadjar dan Paul Salim (Kanada) sempat berdialog dengan netters baru ini. Tetapi banyak di antara pelanggan Apakabar yang segera mengenali jati diri mereka. Beberapa netters lama bahkan sempat meragukan identitas mereka dan mempertanyakannya secara langsung.

Teknik peluberan informasi dengan menggunakan sebanyak mungkin pseudonym ini hanya efektif untuk newsgroups yang punya moderator. Pada list bebas, tanpa moderator, netters lain dengan mudah melacak sumber yang sesungguhnya. Sedangkan pada list dengan moderator, dimuat tidaknya postings tersebut tergantung pada si moderator.

Dari segi kepentingan info ABRI, yang berbahaya ialah kalau moderator mulai menampik postings di list semacam Apakabar. Moderator akan dihadapkan pada pilihan, memenuhi permintaan ABRI atau pelanggan mulai meninggalkan list tersebut, karena menganggap list itu sudah menjadi alat propaganda militer (sesuatu yang peka bagi yang tidak percaya konsep dwi-fungsi ABRI).

Seiring dengan peluberan pseudonym, faktor kandungan isu juga sangat menentukan tingkat reseptivitas pembaca. Ada beberapa ciri khas yang ditemui secara berpola dari postings ABRI dan segera mudah dikenali netters.

Pertama, sikap menarik garis, label, yang jelas antara “mereka” dan “kami”. Trauma terhadap PKI muncul secara jelas dalam pe-label-an tokoh-tokoh yang tidak  dikehendaki. Sekalipun sikap ABRI dan pemerintah terhadap masalah ini bisa dipahami, patut dicatat bahwa generasi pengguna jasa internet mayoritas tidak mengalami masa-masa traumatik di bawah konflik ideologis masa lalu. Lebih jauh lagi, mereka adalah generasi yang terekspose oleh dunia luar, arus globalisasi, dan acuan-acuan pemikiran serta kultural yang seringkali tidak berpijak di bumi Indonesia. Penggunaan label “komunis” secara berlebihan justru bisa melahirkan efek bumerang.

Kedua, pemilahan antara “Anda” yang merujuk pada aktivis kritis, dengan “kita” yang merujuk pada golongan mayoritas diam. Istilah yang berkali-kali dipakai dialah the vocal few untuk mencap netters yang kritis dan the silent majority yang diwakili netters ABRI. Mayoritas diam dirujuk sebagai mereka yang tidak punya akses ke dunia luar (internet, misalnya), tidak sepandai mereka yang kritis, tapi sesungguhnya merupakan suara mayoritas bangsa Indonesia. Mudah ditebak, strategi ini untuk menjaring pembaca “awam” yang diperkirakan bisa dipengaruhi ke sini dan ke sana. Namun agaknya dilupakan bahwa, sekali lagi, pengguna internet bukan “orang awam.” Penggunaan strategi ini secara berkali-kali justru membuat jenuh dan tidak efektif.

Ketiga, strategi untuk menggeser arah isu diskusi dan perdebatan ke hal-hal yang kurang atau bahkan non-esensial, utamanya dilakukan di kalangan netters semu (pseudonym) itu sendiri. Yang serupa dengan strategi ini ialah pengguliran isu baru yang tidak riskan. Dalam perang isu konvensional, kedua strategi ini umumnya bisa mengacaukan pikiran penerima isu. Tetapi, banyak isu dalam list suatu newsgroup di internet didiskusikan secara berkesinambungan. Penggeseran atau pengguliran isu secara tiba-tiba dengan mudah akan dideteksi netters sehingga menjadi sia-sia.

Berkaitan dengan strategi penggeseran atau pengguliran isu ialah peluberan isu. Sejumlah netters pseudonym menyerbu secara berlebihan. Pembaca dijejali informasi sebanyak mungkin sehingga tidak lagi mau masuk ke dalam list tersebut. Strategi demikian tidak efektif untuk dunia cyberspace, karena dengan mudah mereka ke luar dari satu newsgroup dan membentuk kelompok diskusi lain, atau bahkan melakukan kembara liar dengan pindah jalur sebanyak-sebanyaknya. Cara paling efektif justru mengukur peluberan informasi, yaitu kapan pembaca harus dijejali info dan kapan sebaiknya bahkan tidak diberi info sama sekali. Jadi bukan dengan meluberi pendapat sebanyak mungkin.

Ketahanan nasional

Masuknya jalur informasi ABRI ke internet sesungguhnya membawa berbagai implikasi positif. Pertama, teknologi ini mengharuskan ABRI mentransformasikan sifat pendekatan dalam pengendalian hankam, dari semata-mata otot menjadi lebih ke otak. Dengan kata lain, terjadi proses demokratisasi dalam soal-soal hankamnas. Kedua, sebaliknya bagi masyarakat umum, khususnya para ilmuwan serta pengamat politik yang serius dan kritis, kesediaan ABRI untuk  (sampai tingkat tertentu) memenuhi kebutuhan informasi dan dialog, membuka peluang untuk mengurangi prasangka-prasangka yang umum didapati dalam memandang peran politik militer.

Melihat kelemahan-kelemahan di atas, tampaknya masih banyak yang harus dibenahi ABRI untuk bisa memanfaatkan internet secara maksimal. Kontra informasi jenis ini jelas tidak bisa dilakukan dengan cara-cara konvensional, melainkan harus disampaikan sejujur dan selogis mungkin. Perang info klasik membenarkan penipuan data dan pembelokan logika, sementara dunia internet yang dimasuki ABRI adalah bagian dari dunia akademik yang mengutamakan kejujuran ilmiah. Dalam konteks ini, jika perlu, fakta dan data kemiliteran bisa disampaikan sesuai dengan batas-batas kerahasiaan operasi.

Dengan pemahaman atas sifat dasar dunia akademik, ABRI bisa menyediakan kontra informasi yang lugas, tegas, faktual, sekaligus informatif. Artinya, dalam mayoritas kasus tidak perlu menggunakan nama-nama samaran. “Penduduk” cyberspace akan lebih nyaman membaca info yang disampaikan oleh perwira anu dan itu, dibanding mengembangkan rasa curiga akibat identitas yang samar-samar dari sejumlah netters. Dalam dialog semacam ini, ABRI pun harus bersiap-siap untuk sesekali mengakui kesalahan langkah. Dengan pertimbangan cermat, bisa dipilih kejadian tertentu yang tidak merusak kewibawaan secara menyeluruh jika kesalahan tersebut diakui.

Internet memang medium baru, sehingga menghadapkan masalah-masalah yang sebelumnya tidak pernah muncul. Jika interaksi positif bis berlangsung dari berkecimpungnya ABRI ke dalam medium ini, yaitu antara otoritas hankam dengan suara-suara kritis terhadap pemerintah, maka dampak jangka menengah dan panjang justru dapat meningkatkan resiliensi (ketahanan) bangsa kita.

Di satu sisi, ABRI adalah organ vital pemerintahan, yang harus accountable kepada rakyat Indonesia. Pemberian info hankam, betapa pun terbatasnya, adalah bagian dari pertanggungjawaban institusi ini kepada rakyat. Di sisi lain, suara-suara kritis bisa dikendalikan hingga ke tingkat kritik positif, karena diskursus berlangsung antara argumen versus kontra-argumen, bukan antara prasangka dan purbasangka dari kedua belah pihak.

*Hermawan Sulistyo, mantan Redpel majalah TSM (Teknologi-Strategi-Militer), sekarang fellow pada Program for Southeast Asian Studies, Arizona State University, Amerika Serikat.

Advertisements