Birokrasi Indonesia 2012-2020

KOMPAS Sabtu, 24-02-1996. Halaman: 4

Oleh: Hermawan Sulistyo

SEJAK sekitar satu setengah dekade terakhir, diskursus kepolitikan nasional didominasi oleh pendekatan negara versus masyarakat sipil (state vis-a-vis civil society). Seluruh keprihatinan pengamat tercurah pada fakta, bahwa pemerintah, sebagai perwujudan negara, berada pada posisi yang terlalu kuat dalam berhadapan dengan masyarakat sipil. Suatu kondisi yang bukan sekadar dirujuk secara teoretis, melainkan juga diupayakan banyak pihak untuk diubah. Meskipun sulit memprediksi hasil upaya semacam ini, ada sejumlah indikator yang bisa dipakai untuk membayangkan apa yang akan terjadi pada birokrasi kita 16 hingga 20 tahun mendatang.

Continue reading

HUT Kostrad

KOMPAS Senin, 20-03-2000. Halaman: 4

Oleh: Hermawan Sulistyo

PADA pagi hari Senin, 6 Maret, saya “dijemput” petugas Kostrad, dibawa ke markas mereka untuk hadir pada HUT kesatuan tentara paling kuat di Indonesia itu. Salah satu faktor yang membuat saya “diundang secara tidak resmi” mungkin karena berbagai komentar saya belakangan ini mengenai mutasi besar-besaran di tubuh TNI. Komentar yang dipandang banyak orang “membela” sisa tentara yang lain, dan karenanya “pro statusquo”.

Continue reading

Pemimpin yang Sekarang ini Sudah Gagal

TEMPO Interaktif, Edisi 47/02 – 24/Jan/1998

Wawancara Dr. Hermawan Sulistyo:

Agaknya barisan yang menolak Presiden Soeharto untuk menjabat sebagai Presiden RI yang ketujuh kalinya semakin bertambah panjang. Jika beberapa waktu lalu suara itu hanya terdengar dari kalangan intelektual dan mahasiswa, kini penolakan datang dari 19 peneliti LIPI. Mereka memang bagai “oase” di padang tandus birokrasi. Selasa lalu, 19 orang itu menyatakan keprihatinan dengan krisis yang terjadi sekarang ini dan menganggap perlu pergantian kepemimpinan nasional.

Continue reading

Suksesi Indonesia Akan Seperti Thailand

TEMPO Interaktif, Edisi 40/02 – 05/Des/97

Wawancara Hermawan Sulistyo:

SUKSESI selalu menarik dibahas. Apalagi, sejak Presiden Soeharto di ultah Golkar pada tanggal 19 Oktober 1997 lalu, mengungkapkan kata-kata lengser keprabon, madhed pandito—istilah-istilah suksesi khas kerajaan Jawa. Makna ungkapan Presiden itu, jika seorang tak lagi berkuasa, maka dia berdiri tegak sebagai begawan. Soalnya adalah: apakah ungkapan—apalagi tindakan—seperti diucapkan Kepala Negara itu relevan dalam konteks negara Republik ini. Paling tidak, ungkapan Pak Harto itu menunjukkan bahwa penafsiran tentang bagaimana suksesi akan berjalan di Indonesia rupanya masih bermacam ragam.

Continue reading

Lulusan UI Tidak Lebih Baik dari UGM

KOMPAS Sabtu, 21-06-1997. Halaman: 4

Oleh Hermawan Sulistyo

SEBAGAI alumnus Universitas Indonesia (UI), saya bisa bilang kepada rekan saya Dr Riswandha Imawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bahwa sekolah saya (dulu) lebih baik dari sekolahnya. Kalau dia tidak percaya, akan saya sodorkan hasil peringkat 50 universitas terbaik di Asia versi majalah Asiaweek yang dimuat harian ini (Kompas 23/5/1997). Dalam versi ini, UI menduduki peringkat ke-32 dan UGM ke-37, sementara Institut Teknologi Bandung (ITB) ke-19.

Continue reading

Internet dan Hak Cipta Intelektual

KOMPAS Rabu, 03-04-1996. Halaman: 17

Oleh Hermawan Sulistyo

SEJAK merebaknya demam internet di Indonesia, beberapa media massa cetak (surat kabar dan majalah) membuka homepage. Melalui jaringan on-line internet, yang dimuat bukan hanya berita-berita hangat, baik straight news ataupun features, melainkan juga artikel-artikel byline oleh penulis luar.

Continue reading